liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
BI Agresif Naikkan Suku Bunga, Saham Bank Kian Menarik

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen menimbulkan sentimen positif bagi emiten perbankan.

Tercatat dalam RDG yang berlangsung 21-22 Desember, selain suku bunga acuan, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen, dan suku bunga Loan Facility sebesar 25 basis poin menjadi 6,25 persen.

Kenaikan ini disambut positif oleh investor yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup positif. JHSG hari ini, Kamis (22/12) ditutup menguat 3,77 poin atau 0,06 persen ke 6.824,43 setelah seharian bergerak di zona merah.

Indeks bergerak di kisaran 6.800,62-6.844,12 dengan nilai transaksi Rp6,62 triliun. Penguatan indeks tersebut salah satunya didorong oleh sektor keuangan yang naik 0,64 persen.

Analis PT Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora mengatakan kenaikan suku bunga BI menjadi katalis positif bagi saham-saham di sektor perbankan. Hal ini karena akan membuat banyak investor melihat kembali instrumen pasar uang yang imbal hasilnya akan meningkat dan risikonya akan lebih kecil.

Ini, tambahnya, akan memungkinkan bank untuk memberikan lebih banyak kredit kepada kreditur.

“Selain itu, kenaikan suku bunga juga akan meningkatkan margin keuntungan bank,” ujarnya, Kamis (22/12).

Secara teknikal, menurut dia, ada peluang PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dalam jangka pendek bisa mencapai level 9.000 dan 10.400 per saham.

Sedangkan pada penutupan perdagangan hari ini, saham BBCA ditutup turun 100 poin atau 1,15 persen ke posisi 8.575. Begitu juga dengan BMRI yang juga turun 70 poin atau 1,43 persen menjadi 4.960 per saham.

Proyeksi serupa dikatakan Analis Henan Putihrai Securities Jono Syafei. Dia mengatakan, dampaknya akan positif karena kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan pendapatan bunga bank. Meski di sisi lain juga berpotensi menurunkan permintaan kredit karena suku bunga yang lebih tinggi.

“Tentu masih ada peluang BBCA dan BMRI naik karena secara historis, di akhir atau awal tahun biasanya saham-saham ini menguat,” ujarnya.

Sedangkan dua emiten bank besar lainnya yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berhasil menguat 75 poin atau 0,80 persen menjadi 9.425. Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga naik 70 poin atau 1,43 persen menjadi 4.960.

Sebagai catatan, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 175 basis poin hanya dalam waktu empat bulan. Kenaikan masing-masing sebesar 25 basis poin pada Agustus, 50 basis poin pada September, 50 basis poin pada Oktober, dan 50 basis poin pada November.

Dan dengan kenaikan terakhir ini sudah 200 bps atau 2 persen dalam lima bulan. Jadi, ini yang paling agresif sejak 2005.