liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Intraco Penta (INTA) Bidik Kenaikan Pendapatan 128,31 Persen di 2023

Diharapkan langkah PT Intraco Penta Tbk menggantikan PT Intan Baru Prana Tbk (IBFN) menjadi distributor alat transportasi niaga diharapkan dapat meningkatkan kinerja keuangan di tahun 2023. Dengan demikian penghentian sementara perdagangan Saham IBFN di Bursa Indonesia Pertukaran dapat dibatalkan.

“IBFN akan terlibat dalam bisnis alat transportasi komersial. Kami optimis dengan prospek industri alat berat dan transportasi niaga ke depan. Sehingga memberikan peluang pemulihan yang lebih cepat di masa mendatang dan akan memberikan dampak positif bagi perseroan dari labanya,” ujar Direktur Keuangan Intraco Penta Willianto Febriansa dalam keterbukaan informasi publik secara virtual perseroan, Jumat (16/12).

Direktur Utama Intraco Penta Petrus Halim menambahkan, perubahan anak perusahaan penerbit berkode INTA dari perusahaan keuangan tidak lepas dari keunggulan efisiensi induk perusahaan. “Kami memiliki pengalaman dan kompetensi yang kuat di bidang ini,” ujarnya.

Sebagai informasi, saham IBFN telah disuspensi sejak awal Februari 2022. Saham IBFN terkena tiga Notasi Khusus, yakni negative equity (E), disclaimer opinion dari auditor (D) dan saham dalam pengawasan khusus (X).

Hal ini sejalan dengan laporan keuangan IBFN per 30 September 2022, perseroan mencatatkan ekuitas negatif sebesar Rp542,99 miliar atau lebih besar dibandingkan per 31 Desember 2021 sebesar Rp521,84 miliar.

Intraco Penta, lanjut Willianto, optimis dapat mencapai pertumbuhan kinerja yang baik. Di mana, penjualan alat berat dan pendukungnya ditargetkan tahun ini naik 8 persen menjadi Rp 657 miliar. Kemudian meningkat drastis menjadi 128,31 persen menjadi Rp 1,5 triliun tahun depan.

“Tren tahun depan, kami optimis penjualan tahun 2023 dalam kondisi harga komoditas dan nikel yang tinggi,” ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, INTA menyiapkan belanja modal sebesar Rp84 miliar pada 2023. Rp70 miliar di antaranya akan digunakan untuk penggantian alat berat. Sisanya untuk pengembangan software ERP di tengah tahun.

Petrus mengatakan, tahun depan tren penjualan alat berat diproyeksikan meningkat, terutama untuk proyek pertambangan, perkebunan, dan infrastruktur. Untuk itu, perseroan akan memacu dan mendorong kinerja penjualan di lini alat berat.

“Kami melihat tahun depan masih prospektif meski dibayangi resesi global. Selain meningkatkan kinerja di lini utama alat berat kami, tentunya kami juga akan mengoptimalkan kinerja lini bisnis lainnya agar sinergi dan kesinambungan bisnis dapat terjaga,” ujarnya.

Untuk tahun 2022, perseroan telah melakukan restrukturisasi pinjaman untuk melengkapi fasilitas kredit perseroan dan anak perusahaan. Yaitu PT Intraco Penta Wahana (IPW), PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS), dan PT Columbia Chrome Indonesia (CCI) terhadap Bank Mandiri. Hal ini merupakan salah satu strategi untuk mempertahankan kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Lebih lanjut, menurut Petrus, beberapa strategi juga akan diintensifkan tahun depan untuk mengoptimalkan pertumbuhan kinerja perseroan. Salah satunya dengan memaksimalkan bisnis trading alat berat dan menggalakkan penjualan suku cadang dengan jaringan distribusi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Dari sisi kinerja, hingga September 2022 pendapatan INTA meningkat 12,01% menjadi Rp497,16 miliar dibandingkan pendapatan yang diperoleh pada 2021 sebesar Rp443,78 miliar. Namun, INTA masih membukukan rugi bersih komprehensif hingga kuartal III 2022 sebesar Rp99,56 miliar.