liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
master38
Jadi WNI, Bos Bayan Resources (BYAN) Kini Jadi Orang Terkaya No 1

Pendiri perusahaan tambang batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Dato’ Dr. Low Tuck Kwong menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia versi The Real-Time Billionaires Forbes pada Jumat (23/12). Posisi itu berhasil ditempati setelah pria berusia 74 tahun itu menggantikan Hartono bersaudara.

Menurut The Real-Time Billionaires versi Forbes, kekayaan bersih Low Tuck Kwong adalah US$ 25,2 miliar. Sementara Robert Budi Hartono US$ 22,3 miliar dan Michael Hartono US$ 21,5 miliar.

Namun, jika menurut data orang kaya di Indonesia yang dirilis majalah Forbes, Low Tuck Kwong masih akan dinobatkan sebagai orang terkaya kedua di Indonesia pada 2022. Kenaikan itu karena kekayaannya naik empat kali lipat dibanding 2021.

Hingga akhir November 2022, harga saham BYAN telah meningkat sebesar 98,99%. Inilah yang telah meningkatkan kapitalisasi pasar BYAN secara signifikan. Kenaikan harga saham BYAN yang terjadi sepanjang tahun ini membawa pemiliknya masuk dalam jajaran 10 orang terkaya di Indonesia.

Pada awal Desember 2022, BYAN telah melakukan aksi korporasi berupa share split 1:10. Sejak share split dilakukan, harga saham BYAN terus menguat.

Sejak awal tahun, saham BYAN mencatatkan return on capital gain sebesar 586,1%. Ini adalah angka yang bagus.

Pada perdagangan Jumat (23/12), harga saham BYAN ditutup naik 525 poin atau 2,91% di Rp18.575. Nilai kapitalisasi Bayan merupakan yang terbesar ketiga di bursa domestik dengan total Rp 619 triliun.

Sebelumnya, berdasarkan data Forbes saat memeringkat 50 orang terkaya di Indonesia tahun 2021, pendiri Bayan Resources ini hanya menempati posisi ke-18 dengan kekayaan US$ 2,55 miliar. Bisnis batu bara menghadapi kampanye global menentang penggunaannya untuk mengurangi emisi karbon.

Namun, keberuntungan berpihak pada Low Tuck Kwong, terutama tahun lalu. Perang Rusia dan Ukraina meningkatkan permintaan dan harga batu bara. Eropa yang mulai meninggalkan batu bara juga meningkatkan pesanannya karena krisis energi.

Tak heran jika kinerja Bayan Resources yang memiliki 30 anak perusahaan melonjak dalam sembilan bulan terakhir. Emiten dengan kode saham BYAN ini meraup pendapatan kotor US$ 3,3 miliar. Pendapatan ini naik hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 1,74 miliar.

Perseroan juga berhasil membukukan laba US$ 1,7 miliar. Peningkatan ini dua kali lipat dibandingkan sembilan bulan pertama tahun 2021.

Ayah dua anak ini memulai karirnya dengan bekerja di perusahaan konstruksi milik ayahnya, David Low Yi Ngo. Kemudian pada tahun 1972, Low Tuck Kwong memutuskan untuk pindah ke Indonesia dan pada tahun 1973 memutuskan untuk mendirikan PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI) yang bergerak di bidang konstruksi.

Kemudian 15 tahun kemudian, pada tahun 1988, JSI melebarkan sayap ke bisnis pertambangan batubara dan menjadi kontraktor pertambangan terkemuka. Belum lama ini, kecintaannya pada Indonesia membuat pria kelahiran Singapura itu mengubah kewarganegaraannya menjadi warga negara Indonesia pada 1992.

Low Tuck Kwong lahir dan dibesarkan di Singapura pada tanggal 17 April 1948 hingga berusia 24 tahun. Namun, ia mencoba peruntungan di Indonesia pada tahun 1972 dan resmi menjadi warga negara 20 tahun kemudian.

Di bidang pertambangan, Low Tuck Kwong membeli tambang batu bara pertamanya melalui PT Gunubayan Pratamacoal. Pada tahun 1998, melalui PT Dermaga Perkasapratama mengoperasikan terminal batubara di Balikpapan.

Dua tahun kemudian, Low Tuck Kwong mengakuisisi 49,57% saham Manhattan Resources Ltd, sebuah perusahaan pelayaran di Singapura. Sebagai langkah ekspansi, dia membeli saham di salah satu perusahaan kesehatan terbesar di Singapura, Singapore Health Partners.

Low Tuck Kwong juga pemilik The Farrer Park Company, Samindo Resources, dan Voksel Electric. Salah satu perusahaannya sedang membangun sistem kabel bawah laut untuk konektivitas internet yang menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Malaysia.

Pada tahun yang sama hingga tahun 2018 Low Tuck Kwong mulai menjabat sebagai komisaris utama PT Bayan Resources Tbk. Selanjutnya, Low Tuck Kwong menjabat sebagai direktur pelaksana hingga kini memimpin 2.675 karyawan di sana.