liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
January Effect Belum Hampiri Bursa RI, Ini Faktor Penyebabnya

Memasuki perdagangan awal Januari, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami tekanan. Kelemahan ini sejalan dengan aktivitas ekonomi global yang melambat. Pada penutupan perdagangan Rabu (5/1), IHSG turun hampir 3%. Bursa saham Indonesia hari ini juga terkoreksi 2,34%.

Padahal, pelaku pasar modal memperkirakan biasanya di awal tahun akan terjadi January Effect yang akan mendongkrak IHSG. Efek Januari adalah istilah untuk kenaikan musiman harga saham di bulan Januari.

Mengutip laman Investopedia, para analis biasanya mengaitkan reli ini dengan peningkatan pembelian yang mengikuti penurunan harga yang biasanya terjadi di bulan Desember. Inilah saat investor, yang terlibat dalam mengumpulkan kerugian pajak untuk mengimbangi keuntungan modal yang direalisasikan, memicu penjualan.

Penjelasan lainnya adalah investor menggunakan bonus tunai akhir tahun untuk membeli investasi di bulan berikutnya. Meskipun demikian, Efek Januari menunjukkan bahwa pasar secara keseluruhan tidak efisien, karena pasar yang efisien secara alami akan membuat efek ini tidak ada.

Sementara itu, January Effect tampaknya lebih mempengaruhi small caps daripada mid atau large caps karena kurang likuid.

Analis Henan Putihrai Sekuritas, Jono Syafei, mengatakan kekhawatiran perlambatan ekonomi global masih menjadi sentimen utama, ditambah International Monetary Fund (IMF) memperkirakan sepertiga perekonomian dunia mengalami resesi. Pasalnya, penggerak utama perekonomian dunia yakni Amerika Serikat, Tiongkok, dan Uni Eropa mengalami perlambatan aktivitas ekonomi.

“Jadi investor untuk sementara lebih berhati-hati berinvestasi pada aset berisiko seperti saham dan cenderung mengalihkan dananya ke aset aman seperti emas,” katanya kepada Katadata.co.id, Kamis (5/1).

Menurutnya, masih terlalu dini untuk melihat January Effect karena masih di minggu pertama Januari ditambah dengan sentimen perlambatan ekonomi.

Sementara itu, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai akan ada January Effect. Menurutnya, jika melihat month to date (MTD) Desember, berdasarkan harga penutupan 29 Desember 2022, IHSG turun -2,29%.

“Dan ini terjadi karena beberapa saham bermodal besar dan sektor yang saat ini kondusif seperti sektor perbankan dan energi mengalami koreksi harga saham bulanan,” ujarnya saat dihubungi Katadata.

Dia mencontohkan empat emiten saham perbankan dan energi kelas atas seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan lainnya. Sementara itu, empat saham perbankan teratas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa awal pekan ini. Setelah itu, investor mulai mengambil untung dan sahamnya mengalami koreksi harga.

“Ini salah satu faktor yang menyebabkan turunnya IHSG bulan ini. Karena emiten memiliki bobot terbesar di IHSG,” ujarnya.

Selain itu, saham-saham energi seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) juga mengalami koreksi di bulan ini. Menurutnya, semua itu bisa melambung atau meningkat di bulan Januari karena fundamental penerbit kuat. Selain itu, kata dia, saham perseroan masih undervalued dibandingkan rata-rata emiten di sektor energi.