liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Kenaikan Suku Bunga Acuan Perberat Kinerja Keuangan Emiten Tekstil

Prospek penerbit tekstil masih akan mengalami banyak kendala dalam pengembangan usahanya di tahun mendatang. Tak heran jika sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) menurut Apindo menjadi salah satu dari tiga sektor yang akan menerapkan PHK besar-besaran tahun depan.

Misalnya terkendala oleh devaluasi rupiah. Pasalnya, mayoritas produsen TPT masih mengimpor bahan baku. Apalagi, sepinya pasar ekspor juga berimbas pada penurunan nilai jual produsen tekstil.

Begitu juga karena era kenaikan suku bunga diprediksi masih berlanjut di tahun depan.

Kepala Riset NH Korindo Sekuritas Liza Camelia mengatakan kesulitan sektor tekstil bersumber dari ketergantungan transaksi menggunakan dolar AS. Sebab, penggunaan mata uang lokal merupakan salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Belum lagi suku bunga acuan yang kembali naik.

Di sisi lain, industri TPT masih perlu terus memperkuat modal kerja. Ide pertama yang muncul tentu saja dengan mengambil kredit dari bank. Masalahnya, pihak bank sendiri telah menghentikan fasilitas L/C sejak akhir tahun 2020. Beruntung, OJK mengambil kebijakan perpanjangan masa restrukturisasi kredit selama 1 tahun hingga 31 Maret 2024.

“Penerbit sektor tekstil memiliki posisi utang yang sangat tinggi, di tengah tren kenaikan suku bunga tidak bijak jika tidak segera melunasi utang sebesar itu,” ujar Liza kepada Katadata.co.id, Jumat (23/12).

Menilik laporan keuangan perseroan, perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) mencatat penjualan hingga akhir September 2022 turun 25,58% menjadi US$ 474,17 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 637,1 juta. Rugi tahun berjalan yang dibagikan kepada pemilik induk perusahaan sebesar US$ 147,7 juta.

Seperti diketahui, saham SRIL telah disuspensi selama 19 bulan akibat PKPU (dari masa suspensi maksimal 24 bulan yang akan tercapai pada 18 Mei 2023). Lapkeu terlihat sangat tidak sehat, dengan porsi kewajiban Rp 24,22 triliun. Itu melebihi aset Rp 15,88 triliun, sehingga menciptakan defisit ekuitas minus Rp 8,34 triliun.

Nasib yang sama PT Pan Brothers Tbk (PBRX) mencatatkan penurunan penjualan. Per September 2022, PBRX telah mencatatkan penjualan sebesar US$ 501,96 juta, turun 1,15% secara tahunan alias year-over-year (YoY). Alhasil, laba bersih perseroan hanya mencapai US$ 3,381 juta, turun 70,9% dibandingkan periode yang sama tahun 2021 yang sebesar US$ 11,625 juta.

“Keuangan PBRX masih jauh lebih sehat, namun rasio utang terhadap ekuitas pada kuartal III 2022 tetap di atas 1. Namun, PBRX masih bisa bertahan karena dibantu pasar ekspor,” jelas Liza.

Penurunan penjualan juga terjadi di PT Panasia Indo Resources Tbk (HDTX) dari Rp 8,95 miliar pada akhir September 2021, menjadi Rp 5,90 miliar pada akhir September 2021. Nilai tersebut turun 34,12% secara tahunan. Saham HDTX juga sejalan untuk dihapuskan. Saham perusahaan telah dibekukan selama 3,5 tahun terakhir. Penangguhan itu berusia 42 bulan.

Begitu juga dengan PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) yang mencatatkan pertumbuhan penjualan 4,37% yoy menjadi US$ 22,67 juta. Namun, laba bersih turun paling dalam sebesar 96,46% menjadi US$ 34,98 ribu.

Namun, tidak semua produsen tekstil bernasib sama. PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) membukukan penjualan sebesar Rp312,66 miliar, naik 6% dari Rp293,66 miliar pada periode yang sama tahun 2021. BELL mencatatkan laba bersih yang dibagikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp6,96 miliar, melonjak 148% dari Rp 2,81 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, penjualan PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) juga mampu meningkat 19,63% menjadi US$ 316,14 juta. POLY juga mampu meraih laba bersih yang dapat dibagikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$14,28 juta untuk kuartal ketiga tahun 2022. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya POLY mengalami rugi bersih sebesar US$ 3,52 juta.