liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
ronin86
cocol77
cocol77
cocol77
maxwin138
Mitratel Siapkan Belanja Modal Rp 7 Triliun untuk Tambah Menara

Emiten menara telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), menganggarkan belanja modal Rp 7 triliun. Dana tersebut akan digunakan perseroan untuk ekspansi organik dan anorganik, antara lain menambah jumlah menara telekomunikasi, membangun serat optik, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, mengatakan perseroan yakin bisnis pada 2023 masih akan mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata industri. Pasalnya, perseroan mencatatkan compound annual growth rate (CAGR) dua digit pada periode 2017-2022.

Terlihat bahwa CAGR pendapatan Mitratel pada 2017-2022 meningkat sebesar Rp 14%. Kemudian, CAGR laba bersih Mitratel meningkat sebesar 34% atau melebihi CAGR laba bersih TOWR dan TBIG pada periode 2017-2022, yaitu masing-masing sebesar 10% dan minus 6%. Mitratel juga mencatat CAGR EBITDA sebesar 27%, lebih tinggi dari rata-rata industri.

Teddy menjelaskan, dengan pertumbuhan CAGR ini, perseroan juga terus mendorong monetisasi aset dalam mengakselerasi pertumbuhan berkelanjutan yang didukung menara yang tersebar di seluruh Indonesia termasuk dari akuisisi.

“Kami juga melakukan inovasi dalam pengembangan ekosistem bisnis menara, termasuk fiber optik,” ujarnya, Kamis (12/4).

Sementara itu, Robertus Hardy, Analis Riset Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai saham infrastruktur telekomunikasi merupakan saham yang prospektif tahun ini karena mendekati periode pemilihan umum pada 2024. Hal ini diproyeksikan berdampak pada lonjakan trafik data.

Selain itu, kinerja produsen infrastruktur telekomunikasi didukung oleh penggunaan teknologi 5G yang semakin luas, penetrasi fixed broadband dan persaingan dari penyedia layanan telekomunikasi untuk meningkatkan kualitas layanannya.

“Oleh karena itu, kami memulai industri dengan peringkat Kegemukan dengan MTEL sebagai pilihan teratas. Selain neraca yang relatif sehat dengan net gearing per Desember 2022 hanya 33,0% dibandingkan TOWR dan TBIG masing-masing 309,5% dan 224,3%,” kata Robertus, dalam risetnya.

Di sisi lain, aset MTEL memiliki valuasi yang lebih murah yaitu enterprise value (EV)/tower ratio per Desember 2022 sebesar Rp2 miliar jika dibandingkan dengan TOWR dan TBIG yang EV/tower masing-masing sebesar Rp3,1 miliar dan Rp3,3 miliar.

Kemudian, Mitratel tidak memiliki eksposur terhadap risiko fluktuasi mata uang asing karena seluruh pinjaman dalam mata uang rupiah. Utang perseroan tahun lalu turun menjadi Rp 15,29 triliun dari Rp 18,07 triliun. Debt to Equity Ratio (DER) pada tahun 2022 turun menjadi 0,45 kali dari sebelumnya 0,54 kali.

Sedangkan hingga Desember 2022, Indonesia memiliki 127,8 pengguna seluler per 100 penduduk. Dengan lebih dari 275 juta penduduk per September 2022, india merupakan negara terbesar keempat di dunia setelah India (1,42 miliar), China (1,41 miliar), dan AS (333 juta).

Sehingga, kata dia, potensi pasar yang sangat besar ini berhasil menarik minat beberapa provider menara telekomunikasi besar untuk berinvestasi guna memperkuat pangsa pasar di segmen ini.