liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
ronin86
cocol77
cocol77
cocol77
maxwin138
MASTER38 MASTER38 MASTER38 MASTER38 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 COCOL88 COCOL88 COCOL88 COCOL88 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 ZONA69 ZONA69 ZONA69 NOBAR69 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38
SLOT GACOR HARI INI SLOT GACOR HARI INI
BOSSWIN168 BOSSWIN168
BARON69
COCOL88
MAX69 MAX69 MAX69
COCOL88 COCOL88 LOGIN BARON69 RONIN86 DINASTI168 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 MABAR69 COCOL88
ronin86
bwtoto
bwtoto
bwtoto
master38
Logo Katadata

SINGAPURA. Bursa Efek Singapura (Singapore Exchange/SGX) memiliki pengawasan yang ketat untuk memastikan seluruh emitennya menerbitkan laporan keberlanjutan yang bertanggung jawab. SGX juga menilai apakah laporan tersebut benar-benar menunjukkan aksi iklim dan keberlanjutan setiap emiten.

SGX bekerja sama dengan Centre for Governance and Sustainability (CGS) di National University of Singapore (NUS) untuk meninjau laporan keberlanjutan yang diterbitkan. Total ada 535 emiten SGX yang telah menerbitkan laporan keberlanjutan tahun fiskal 2022 per 31 Juli 2023.

Heng Swee Keat, Deputi Perdana Menteri dan Menteri Koordinator Kebijakan Ekonomi Singapura, mengatakan SGX telah secara bertahap memberlakukan aturan yang mewajibkan publikasi laporan keberlanjutan. Aturan ini terus diperkuat dengan standar lebih ketat sejak 2017.

“Saya senang mendengar bahwa 99,6% perusahaan terbuka yang memenuhi syarat, hampir semuanya, merilis laporan keberlanjutan tepat waktu,” kata Heng dalam peluncuran “Tinjauan Laporan Keberlanjutan 2023”, di Singapura, Kamis (23/11).

Tinjauan Laporan Berkelanjutan SGX dilakukan tiap dua tahun sekali sejak 2019. Untuk tinjauan kali ini, SGX memasukkan keterbukaan terkait iklim sebagai salah satu dari tujuh kriteria penilaian. Keterbukaan ini juga mendapat bobot terbesar, yaitu 25%. Sementara itu, enam faktor lainnya mendapat bobot 15%.

Jika menggunakan kriteria yang sama dengan penelitian 2019 dan 2021, rata-rata nilai laporan keberlanjutan tercatat sebesar 75 poin pada 2023. Nilai ini naik dari 65 poin pada 2019 dan 72 poin pada 2021. Penelitian menggolongkan nilai di atas 70 poin sudah bagus.

Keterbukaan Terkait Iklim Belum Memadai

Meski begitu, diperkenalkannya kriteria keterbukaan terkait iklim membuat skor tersebut turun. Rata-rata nilai turun dari 75 poin menjadi 66 poin. Penurunan terbesar terjadi di emiten-emiten berkapitalisasi pasar kecil (di bawah SGD 300 juta).

Direktur CGS NUS sekaligus pemimpin penulisan tinjauan, Prof. Lawrence Loh, mengatakan penurunan ini menjadi evaluasi untuk emiten-emiten SGX. Menurutnya, perlu ada fokus lebih untuk keterbukaan terkait iklim yang lebih terstruktur. “Kurangnya keterbukaan soal iklim membuat nilai rata-rata yang seharusnya A menjadi B,” kata Lawrence dalam peluncuran “Tinjauan Laporan Keberlanjutan 2023”.

Mengutip situs resminya, SGX memang baru memberlakukan kewajiban keterbukaan terkait iklim pada 2022. Ini karena efek perubahan iklim yang semakin terlihat hingga usaha kolektif secara global untuk mengatasi hal tersebut menjadi sangat penting.

SGX merekomendasikan keterbukaan terkait iklim tersebut berdasarkan kerangka Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD). Untuk tahun fiskal 2022, 393 dari 535 emiten SGX telah memasukkan keterbukaan sesuai kerangka TCFD.

“Adanya keterbukaan terkait iklim dengan kerangka TCFD seharusnya mengurangi insiden greenwashing. Ini karena ada kerangka spesifik yang membuat pemangku kepentingan lebih mudah menganalisis dan membandingkan datanya,” tulis peneliti dalam tinjauan tersebut.

COCOL88 GACOR77 RECEH88 NGASO77 TANGO77 PASUKAN88 MEWAHBET MANTUL138 EPICWIN138 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21