liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Saham Batu Bara Kompak Menguat Usai Cina Cabut Larangan Australia

Saham produsen batu bara di Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak bergerak di zona hijau pada perdagangan jelang akhir pekan, Jumat (13/1).

Pantauan Katadata.co.id, harga saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 0,30%, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga naik 1,29%. Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) juga naik 1,62%.

Kemudian, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik konglomerat Low Tuck Kwong juga naik 1,38%. Saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) naik 3,77% dan saham PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) naik 2,01%.

Saham batu bara naik setelah China mencabut larangan ekspor batu bara Australia ke negara itu. Keputusan itu diambil setelah para pemimpin China dan Australia bertemu di KTT G-20 pada November 2022, yang disusul dengan kunjungan Menlu Australia ke China sebulan kemudian.

Analis Mirae Asset Sekuritas Juan Harahap menilai pembukaan kembali jalur ekspor batu bara Australia ke China justru bisa menjadi hambatan bagi produsen baru batu bara Indonesia. Secara kumulatif, Australia kini tercatat menyumbang sekitar 18% dari total ekspor batubara termal China, menjadi pasar terbesar ke-2 untuk batubara Australia pada tahun 2020.

“Kami melihat pelonggaran larangan itu karena China ingin memperluas opsinya untuk mendapatkan lebih banyak batu bara untuk pembangkit listrik dan pabrik bajanya,” kata Juan, dalam publikasi penelitiannya, Jumat (13/1).

Juan menilai produsen tambang batu bara yang memiliki eksposur besar ke negara Tirai Bambu akan terdampak. Karena ITMG memiliki eksposur terbesar ke pasar China sebesar 31%, diikuti oleh ADRO dan PTBA masing-masing sebesar 11% dan 4%. Sebagai gambaran, ketika larangan ekspor batu bara Australia diberlakukan, Indonesia dan Rusia menguasai 63% pangsa pasar batu bara China dari sebelumnya hanya 47%.

“Kami melihat persaingan langsung ITMG dengan batu bara termal Australia. Namun, kami perkirakan hal itu akan berdampak kecil pada kinerja perusahaan,” katanya.

Pasalnya, dari segi harga, batu bara termal asal Negeri Kanguru cukup mahal, sehingga tidak sebanding dengan harga batu bara asal Indonesia.

Kedua, potensi pasokan dari Australia lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, karena pemasok Australia telah menjajaki pasar alternatif selama dua tahun terakhir.

Bagi ADRO, Mirae melihat batu bara termal Australia tidak menjadi ancaman langsung karena perbedaan LCV batu bara. Khusus di sektor batu bara, Mirae Asset mempertahankan rekomendasi netral.