liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Saham-saham Ini Diyakini Tahan Banting Hadapi Resesi

Badai resesi global semakin mendekat ke Indonesia. Beberapa indikator ekonomi makro yang menjadi dasar ‘perkiraan’ ini terus membayangi periode suram tahun depan.

Tanda-tanda gejolak juga terlihat pada akhir September yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh di bawah level tertinggi 7.372 dan kini berada di posisi 6.812. Volatilitas ini akan berlanjut hingga tahun depan.

Meski begitu, investor tidak perlu khawatir karena masih ada saham-saham yang diyakini mampu bertahan dari resesi di tahun depan.

Kepala Investasi Gian Investa Reswara Kiswoyo Adi Joe berpandangan bahwa sektor saham cukup defensif untuk investasi saat resesi, terutama perbankan. Misalnya BBCA dengan target harga Rp10.000 per saham, BBRI Rp6.000, BMRI Rp12.000, dan BBNI Rp11.000 tahun depan.

“BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI adalah empat bank besar di Indonesia. Bank-bank di Indonesia untungnya besar dan dalam segala hal, kami masih berhubungan dengan bank,” katanya kepada Katadata.co.id, Jumat (16/12).

Selain itu, ada juga sektor telekomunikasi yaitu TLKM dengan target harga Rp 5.500 dan ASII di sektor lainnya dengan target harga Rp 8.500.

“TLKM merupakan perusahaan telekomunikasi terbesar, memiliki jaringan terluas dan memiliki pelanggan terbanyak. Fasilitas terlengkap juga dan tidak ikut persaingan harga murah. ASII masih menjadi perusahaan konglomerasi dengan tulang punggung otomotif yang masih menjadi penggerak ekonomi domestik dengan mobilitas penduduk,” ujarnya.

Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menambahkan, sektor ritel bisa saja mengejutkan tahun depan dengan terus bertahan dan eksis di tengah resesi yang menghantui dunia. Keistimewaannya karena masa kampanye pemilihan umum (pilpres) Indonesia tahun depan. Apalagi calon presiden yang akan mencalonkan diri sebagai presiden semuanya pendatang baru, bukan incumbent.

Seperti yang terjadi, secara historis pada tahun-tahun pemilu akan banyak uang yang beredar karena biasanya para calon akan berusaha meraih simpati masyarakat dengan menyalurkan bansos. Hal ini diharapkan dapat mendongkrak pendapatan sektor ritel, terutama saham AMRT yang menguat.

“AMRT mungkin memiliki tren kenaikan yang sangat sehat tahun ini, tetapi sejauh ini valuasinya cukup tinggi dibandingkan industri dengan PER saat ini 45,52x. Jadi, untuk arah masuk saat ini tidak bijaksana untuk membeli terlalu agresif tetapi sebaiknya lebih baik menunggu beli di saat kelemahan. Kalau bisa di area support 2.200-2.150 atau 2.000-1.900. Resistance 2.600-2.700 atau 3.000-3.100,” ujar Liza.

Selain itu, Vice President and Senior Technical Analyst PT Samuel Sekuritas Indonesia Muhammad Alfatih memperkirakan ada enam sektor yang memiliki tren positif dan semakin kuat menghadapi resesi. Yaitu, siklis, non-siklus, fundamental, energi, keuangan dan kesehatan.

Di sektor siklis, saham emiten dengan kode nama CARS, MAPI, SMSM, LPPF dan SCMA memiliki outlook positif. Sedangkan untuk sektor non-cyclical, dia yakin saham AMRT, MYOR, ICBP, HMSP, AALI, GGRM dan INDF akan bersinar. Untuk sektor fundamental, investor bisa mencermati saham-saham dari TKIM, SMGR, TPIA, INTP, INCO, dan ANTM.

Kemudian di sektor energi ada beberapa saham seperti MEDC, AKRA, INDY, ADRO, PGAS, TCPI, DOID, ADMR, ENRG, dan ITMG yang menjadi fokus. Sedangkan untuk sektor keuangan ada saham PNLF, BMRI, BBCA, BBNI, BBRI, SMMA, dan MEGA. Untuk sektor kesehatan, investor bisa memilih saham KLBF, CARE, dan SIDO.

Alfatih bahkan menyebut target harga beberapa penerbit tersebut. Saham KLBF dengan target teoritis 2.330, CARS dengan target 120, MAPI di 1.570-1.830, LPPF bisa mencapai 10.000, SCMA di 310, AMRT dengan target Fibonacci 3.000-3.050.

Kemudian saham MYOR target 2.570-2.800, ICBP target 10.500-11.250, AALI target 9.450-10.000, INDF target 6.600, TKIM target 9.200-9.615, SMGR50-19,85, INCO target 8.150- 8.750.

Lalu saham ANTM dengan target 2.580-2.775, MEDC target 1.290-1.530, AKRA target 2.000, PGAS target 2.190-2.350, ENRG 405, ITMG target sekitar 54.250. Selanjutnya BBCA dengan target 10.200, BMRI dengan resistance 11.700, BBRI 5.000-5.500.